==========
== Rian ==
==========

Kenapa saya Selalu Bilang GNU/Linux, Bukan Linux?

Sebagai user GNU/Linux, saya lebih memilih terminologi “GNU/Linux” daripada hanya “Linux” karena istilah ini lebih tepat dalam menggambarkan keseluruhan OS yang digunakan. Linux sendiri hanyalah kernel, sedangkan sistem yang kita pakai sehari-hari terdiri dari banyak komponen lain, terutama dari GNU Project, yang membuatnya fungsional sebagai operating system yang lengkap. Jadi sebenarnya Linux itu kernel, yaitu komponen inti dalam sebuah operating system yang berfungsi sebagai perantara antara hardware dan software. Kernel mengelola memory, process scheduling, dan system resources lainnya. Namun, kernel saja tidak cukup untuk membangun sebuah operating system yang fungsional dan dapat digunakan secara langsung oleh users.

Yang kita pakai sebenarnya kombinasi dari Linux kernel (yang ngurus hardware dan process), GNU utilities (kayak ls, cp, bash, dan gcc), GNU C Library (glibc) yang jadi jembatan antara applications dan kernel, plus banyak komponen lainnya. Tanpa GNU utilities, Linux kernel cuma sekumpulan kode yang nggak bisa dipakai dengan nyaman. Makanya, saya lebih suka nyebutnya GNU/Linux karena ini hasil collaboration antara GNU project dan Linux kernel. GNU/Linux juga contoh nyata dari FOSS (Free and Open Source Software) atau FLOSS (Free/Libre and Open Source Software). Filosofi ini bukan cuma soal kode yang open-source, tapi juga soal freedom: kebebasan buat menjalankan program sesuai keinginan, ngoprek dan ngedit code, ngebagiin copies, sampai mendistribusikan modified versions.

GNU project sendiri dimulai Richard Stallman tahun 1983 buat bikin free operating system yang compatible sama Unix. Lalu, ketika Linus Torvalds merilis Linux kernel di tahun 1991, kombinasi Linux kernel dan GNU utilities akhirnya bikin operating system lengkap yang dikenal sekarang. Contohnya? Debian GNU/Linux. Mereka jelas-jelas masukin “GNU” di namanya buat nunjukin kalau sistem ini lebih dari sekadar Linux kernel.

GNU/Linux lebih tepat digunakan untuk menggambarkan OS yang kita pakai sehari-hari, karena mencakup baik Linux kernel maupun GNU utilities yang mendukungnya. Walaupun dalam banyak situasi “Linux” saja sudah cukup dipahami, saya rasa nggak ada salahnya memahami sejarah dan kontribusi di balik sistem ini. Malah, makin lama saya pakai dan makin dalam saya belajar, makin terasa betapa pentingnya peran GNU dalam membentuk OS ini. Sebenarnya sah-sah saja orang tetap nyebut “Linux”, tapi kalau udah tahu konteksnya, kayaknya lebih pas kalau kita akurat dalam penyebutan. Istilah ini bukan cuma soal teknis, tapi juga soal mengakui kerja keras semua pihak yang terlibat dalam pengembangannya.